Diberdayakan oleh Blogger.

New

Artikel

Kolom Guru

Prestasi

Agenda Sekolah

Info Pendaftaran

Sejarah Lahirnya KOKAM Pemuda Muhammadiyah

 

Sejarah mencatat, Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) lahir sebagai jawaban atas keprihatinan segenap kader persyarikatan Muhammadiyah pada awal tahun 1965. Pada waktu itu tujuan KOKAM lahir adalah untuk memberi dukungan fisik terhadap perjuangan bangsa, inilah bentuk peran konkrit bela negara dari persyarikatan Muhammadiyah dalam bersama komponen bangsa yang lainnya dalam memberi dukungan fisik terhadap berbagai bentuk ancaman bagi kedaulatan negara Republik Indonesia.

Diketahui, di tahun-tahun menjelang peristiwa Gestapu PKI, kaum komunis mulai berusaha mematangkan kadernya dengan meningkatkan ofensif revolusionernya, dan mulai mengadakan percobaan-percobaan dengan melakukan aksi-aksi sepihak. Pada tanggal 15 November 1961, sekitar 3000 orang anggota Barisan Tani Indonesia (BTI) mengadakan aksi sepihak menggarap tanah milik Perusahaan Perkebunan Negara secara liar.

Aksi-aksi sepihak kemudian dilancarkan oleh PKI, dibanyak daerah mereka meningkatkan situasi revolusioner sebagai persiapan merebut kekuasaan. Peristiwa Bandar Betsi di Sumatra Utara dimana seorang letnan angkatan darat mati dicangkul oleh BTI dan peristiwa itu cukup menyakitkan hati Pimpinan Angkatan Darat.

Bukan cuma itu, terjadi juga upaya-upaya penggerogotan ideologi negara. Pancasila diperas menjadi Trisila, Trisila diperas menjadi Ekasila, Ekasila adalah Gotong Royong. Gotong Royong itu terwujud dalam Nasakom. Nasakom adalah singkatan dari Nasional, Agama, dan Komunis.

Dalam konstelasi politik saat itu, Pemuda Muhammadiyah tidak mendapat tempat di Front Nasional karena ditolak menjadi anggota Front Pemuda. Yang menjadi anggota Front Pemuda hanyalah organisasi Pemuda yang berafiliasi dengan partai politik.

Lantas, untuk mengimbangi kegiatan Internasional yang sudah menjurus ke kiri, ummat Islam mengadakan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA). Konferensi pendahuluan dilaksanakan pada tanggal 6 – 22 Juni 1964 di Jakarta, sedang Main Conference (Konferensi utamanya) diselenggarakan di Bandung dari tanggal 6 – 14 Maret 1965.

Baik pada konferensi pendahuluan maupun pada konferensi utama susunan delegasi Indonesia orangnya tetap sebagai berikut: Dr. Idham Chalid, Anwar Tjokroaminoto, A. Sjarchu, Sirajuddin Abbas, A Badawi (Muhammadiyah), Wartomo Dwidjojuwono (GASBIINDO), Aminuddin Aziz (NU), Marzuki Yatim (Muhammadiyah), Sofyan Sirajd (PERTI), M. Subhan Z.E (NU), Dja’far Zaenuddin (Al Washliyah), Let. Kol. Isa Idris (Pusrah AD), Syeh Marhaban (PSII), Hamid Widjaja (NU), Drs. Saidan Sohar.

Adapun Drs. Lukman Harun duduk sebagai Wakil Sekretaris merangkap anggota “Pratical Working Comite” untuk delegasi Indonesia. H. S. Prodjokusumo duduk di dalam sekretariat panitia penyelenggara dan ketua seksi pengerahan massa.

Seksi pengerahan massa dibagi dua sub, untuk sub seksi pengerahan massa Jakarta dan sub seksi pengerahan massa Bandung. Sub seksi pengerahan massa di Jakarta dipercayakan kepada Kuaseni Sabil (PERTI) sebagai ketua, dan wakil ketua Suhadi (NU) dan wakil ketua Muhammad Suwardi (Muhammadiyah). Kuaseni sebagai ketua tidak dapat berbuat banyak karena di PERTI sulit untuk mengerahkan massa, maka semua kegiatan dipercayakan kepada wakil ketua yaitu Suhadi (NU) dan Drs. H. Muhammad Suwardi.

Di sinilah, ummat Islam menunjukkan kekuatannya dalam pengerahan massa. Massa ummat Islam terdiri tua-muda, pria-wanita, baik pada waktu penyambutan di Jakarta maupun di Bandung. Penyambutan di Jakarta dapat dibagi dua bagian: pertama, pengerahan massa di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh para delegasi dan disitu ummat Islam sambil melambaikan bendera Merah Putih dan Bendera Negara peserta KIAA, mereka mengelu-elukan dengan takbir “Allahu Akbar”.

Kemudian, atas usul ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Raya mengambil inisiatif bersama-sama Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Jakarta di bawah asuhan: Letnan Kolonel S. Prodjokusumo, H. Ibrahim Nazar, Noerwidjojo Sardjono, Drs. Lukman Harun, Sutrisno Muhdam, BA, Drs. Haiban, dan Muhammad Suwardi, BA, merencanakan mengadakan kursus kader yang dinamakan Kader Takari. Pengkaderan ini tujuannya adalah untuk meningkatkan mental, daya juang keluarga besar Muhammadiyah dalam menghadapi segala kemungkinan.

Kursus Kader yang dibuka pada tanggal 1 September 1965 ini, diikuti oleh 250 orang untuk Angkatan Pertama terdiri dari orang tua yang bersemangat muda dan angkatan muda laki-laki dan perempuan dari utusan Cabang. Acara ini diselenggarakan di Aula Universitas Muhammadiyah Jakarta, dan penanggung jawab kursus ini adalah Pimpinan Daerah Muhammadiyah DKI Jakarta. Materi yang diberikan antara lain: Tauhid, Kemuhammadiyahan, Kepribadian Muhammadiyah, Fungsi Kader Muhammadiyah dalam Revolusi, Front Nasional, Gerakan Massa Revolusioner, Keamanan dan Pertahanan, Revolusioner yang sedang Berkembang, dan lain-lain.



Adapun  yang memberikan kursus kader disamping oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah sendiri, utamanya oleh: Mulyadi Djojomartono, Jendral Abdul Haris Nasution, Jenderal Polisi Sutjipto Judodiharjo, Mayor Jenderal Soetjipto, SH dan Kolonel Djuhartono

Kursus kader berjalan dengan lancar, pada malam tanggal 30 September 1965 yang memberikan ceramah adalah Jenderal Polisi Sutjipto Judodiharjo sampai jam 21.20, kemudian berikutnya diisi oleh Jendral Abdul Haris Nasution. Dalam ceramahnya beliau dengan berani menentang ide Angkatan ke-5. Angkatan ke-5, tidak lain Angkatan Tambahan yang tidak termasuk dalam ke-4 angkatan yang sudah ada, yaitu barisan rakyat yang dipersenjatai. Semua yang disampaikan pada peserta kursus memberikan motivasi yang sangat bernilai dan menjadi pedoman bagi mereka. Pada jam 23.30 Jendral Abdul Haris Nasution meninggalkan lokasi kursus kader.

Pada tanggal 1 Oktober 1965, hari Jum’at, pada waktu berita jam 7.15 pagi RRI Jakarta menyiarkan pengumuman Gerakan 30 September. Dari pengumuman itu ditujukan kepada jenderal-jenderal anggota Dewan Jenderal yang akan mengadakan coup kepada pemerintah. Kemudian siaran itu diulang kembali pada jam 8.15.

Siang harinya pukul 13.00 kembali disiarkan sebuah dekrit tentang pembentukan Dewan Revolusi dengan mengumumkan sederetan nama orang-orang penting di bawah pimpinan Letnan Kolonel Untung Syamsuri dan wakil-wakilnya Brigadir Jenderal Supardjo, Letnan Kolonel Udara Heru, Kolonel Laut Sunardi dan Komisaris Besar Polisi Anwas.

Peserta kursus sudah berdatangan ke Universitas Muhammadiyah Jakarta, seolah-olah tidak terjadi apapa-apa, mereka memenuhi aula menunggu kedatangan pemateri yang mengisi malam itu adalah Mayor Jenderal Soetjipto, SH. Kemudian panitia mengumumkan kepada peserta kursus diskors, Pimpinan akan sidang sebentar. Pimpinan yang ada pada waktu itu H.S. Prodjokusumo, Drs. Lukman Harun, Sutrisno Muhdam, H. Soejitno, Drs. Haiban HS, Sumarsono, Imam Sam’ani, Jalal Sayuthi, dan penulis sendiri (Drs. H. Muhammad Suwardi), mengadakan sidang darurat dan kilat di ruang rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta yang hanya diterangi dengan lilin, karena pada hari itu semua aliran listrik putus.

Setelah semua kumpul di ruang Rektor, Drs. Lukman Harun memberikan informasi kepada yang hadir, yang isinya:

1. Apa yang menamakan dirinya Gerakan 30 September yang telah membentuk Dewan Revolusi serta mendemisionerkan kabinet Dwikora sebenarnya adalah suatu perebutan kekuasaan.

2. Menurut informasi yang dapat dikumpulkan yang mendalangi perebutan kekuasaan tersebut adalah PKI / DN Aidit.

3. Negara dalam keadaan bahaya. Presiden dan beberapa prang Perwira Tinggi hilang belum ada kabar beritanya.

4. Terjadi penculikan terhadap beberapa orang Jenderal Pimpinan Angkatan Darat.

5. Perlu disampaikan kepada seluruh Pimpinan dan Anggota Pemuda Muhammadiyah untuk siap dan waspada menghadapi segala kemungkinan.

Pada waktu itu Letnan Kolonel S. Prodjokusumo sebagai Kepala Piket di Markas Hankam telah mendapat breefing pula di Markas Hankam seputar masalah G 30 S/PKI pada hari Jum’at tanggal 1 Oktober 1965.

Berdasarkan informasi tersebut maka diambil keputusan atas usul Letnan Kolonel S. Prodjokusumo untuk perlunya dibentuk Komando Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan Muhammadiyah dan kemudian forum mengangkat Letnan Kolonel S. Prodjokusumo menjadi komandannya dan Universitas Muhammadiyah Jakarta sebagai markasnya.

Setelah kebijaksanaan tersebut diambil pimpinan kembali ke Aula dan peserta kursus diminta berkumpul ke Aula. Skors dicabut Letnan Kolonel S. Prodjokusumo yang telah diangkat sebagai komandan menyampaikan penjelasan kepada peserta kursus, bahwa pemateri malam ini Mayor Jenderal Soetjipto tidak bisa hadir karena saat ini negara dalam keadaan darurat. Kemudian menyampaikan informasi-informasi dan

Atas usul pimpinan dan disambut dengan suara bulat oleh peserta kursus untuk membentuk Kesatuan Perjuangan di dalam Muhammadiyah Jakarta Raya dengan nama Komando Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan Muhammadiyah yang disingkat KOKAM. Tepat jam 21.30 tanggal 01 Oktober 1965 diproklamirkan berdirinya KOKAM.

Kemudian Pak Prodjokusumo selaku Komandan KOKAM mengeluarkan instruksi sebagai berikut:

1. Di setiap Cabang Muhammadiyah segera dibentuk KOKAM.

2. Seluruh pimpinan cabang setiap hari harus memmberikan laporan ke Markas Besar KOKAM di Jl. Limau Kebayoran Baru.

3. Angkatan Muda Muhammadiyah disetiap cabang bertanggungjawab atas keselamatan semua keluarga Muhammadiyah di Cabangnya masing-masing.

4. Seluruh pimpinan Angkatan Muda Muhammadiyah siap dan waspada menghadapi segala yang terjadi guna membela Agama, negara dan bangsa.

5. Mengadakan kerjasama yang sebaik-baiknya dengan kekuatan-kekuatan yang anti Gerakan 30 September.

Setelah selesai mengeluarkan instruksi (Perintah Harian) maka peserta kursus dipersilahkan pulang ke tempat masing-masing dengan sikap waspada. Tanggal 2 Oktober 1965, informasi-informasi sudah cukup banyak masuk dan telah dapat membaca situasi yang sebenarnya. Karena pada tanggal itu Komandan Gabungan V Koti Brigadir Jenderal Sutjipto, SH mengundang Pimpinan Partai Politik dan Organisasi massa untuk datang ke Kantor Gabungan V Koti di Merdeka Barat untuk mendengarkan breefing mengenai perkembangan yang terjadi di tanah air. Brigadir Jenderal Sutjipto, SH menerangkan segala sesuatu yang terjadi, bagaimana jalannya perebutan kekuasaan oleh Gerakan 30 September.

Dijelaskan oleh Beliau bahwa perwira tinggi Angkatan Darat telah diculik oleh G 30 S PKI, mereka itu adalah Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal Haryono Mastirtodarmo, Mayor Jenderal Suwondo Parman, Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan dan Brigadir Jenderal Soetojo Siswodimiharjo. Sedangkan Jenderal A.H. Nasution yang sampai jam 23.00 memberikan ceramah di kursus Kader Muhammadiyah, yang pada waktu itu jabatan beliau selaku Menteri Kopartemen Hankam atau Kepala Staf Angkatan Bersenjata yang menjadi sasaran utama berhasil meloloskan diri dari usaha penculikan tetapi putri beliau, Ade Irma Suryani Nasution tewas akibat tembakan penculik. PERWIS (Perwakilan Istimewa) PP Muhammadiyah di Jakarta pada tanggal 2 Oktober 1965 mengeluarkan pernyataan mengutuk keras apa yang menamakan Gerakan 30 September dan apa yang disebut “Dewan Revolusi”.

Setelah keputusan Konferensi Kilat Muhammadiyah, seluruh kekuatan keluarga besar Muhammadiyah menjelma menjadi KOKAM dan merupakan satu kesatuan organisasi dengan komando KOKAM Pusat bangkit menentang Gerakan 30 September/PKI bersama dengan unsur ABRI.

Laporan-laporan pembentukan dan kegiatan KOKAM mengalir dari seluruh Tanah Air. Di Yogyakarta, KOKAM juga terbentuk dan menjadi pengawal Muhammadiyah Wilayah dan PP Muhammadiyah yang berdomisili di Yogyakarta. KOKAM Yogyakarta dengan daya tangkal yang tinggi dapat melaksanakan tugasnya dengan baik bahkan anggota KOKAM dilatih oleh Pasukan Baret Merah (RPKAD) dan menjadi anak emasnya Sarwo Edhi.

Menurut kisah anggota KOKAM tahun 1965-an yang sekarang masih aktif di Muhammadiyah Tempel, KOKAM dalam menjalankan tugasnya memang tidak bisa terlepas dari RPKAD bahkan sering dipinjami sejata, termasuk juga granat. Sebetulnya masih banyak kisah-kisah tentang eksistensi KOKAM di Wilayah Yogyakarta, termasuk di Turi dimana asal kelahiran Letnan Kolonel S. Prodjokusumo. Temasuk juga di Prambanan, anggota KOKAM digembleng oleh Subagiyo HS yang sekarang mantan KSAD.

Berdiri pula KOKAM Jawa Tengah, mereka mengadakan latihan dan pembinaan kader. Kekuatan KOKAM Jawa Tengah berpusat di Pekalongan yang mempunyai satu kompi Pasukan Inti, yang mendapat latihan dan pembinaan dari ABRI. Disamping Pekalongan, Surakarta juga mempunyai kesatuan-kesatuan KOKAM, diantaranya ada pasukan intinya yang diberi nama Fighting Flower (Bunga Penempa). KOKAM di Surakarta juga bahu membahu dengan ABRI khususnya RPKAD.

Pembentukan KOKAM Jawa Timur cukup unik. Fatchurrahman pada tanggal 1 Oktober 1965 kebetulan berada di jakarta. Letnan Kolonel S. Prodjokusumo mengangkat beliau langsung menjadi Komandan KOKAM Jawa Timur, setelah pulang ke Jawa Timur, barulah beliau menyusun pasukannya. Unsur-unsur perwira Angkatan Darat dan Angkatan Laut di Jawa Timur yang melatih dan membina bahkan ada yang langsung memimpin kesatuan KOKAM. Jawa Timur merupakan daerah yang paling rawan ke-2 setelah Jawa Tengah. Pernah dalam suatu upacara, barisan KOKAM terkena berondongan peluru.

Di luar Jawa tercatat yang secara teratur memberikan laporan, antara lain Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, Lampung, Riau, dan Jambi. Bahkan KOKAM Sulawesi Selatan diberi pinjaman senjata oleh ABRI dan mengadakan camping bersama ABRI. KOKAM Lampung bekerjasama dengan Pimpinan Perkebunan Negara dan mendapat pinjaman kendaraan Landrover dan sebagainya.


Sumber: Website tajdid.id

Khutbah Jumat: Mengatasi Penyakit Hasad


KHUTBAH JUMAT: MENGATASI PENYAKIT HASAD

OLEH: ANDIKA RAHMAWAN

Guru SMP Muhammadiyah Imam Syuhodo

 

KHUTBAH PERTAMA

 

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا  أَمَّا بَعْدُ

 

Jamaah shalat Jumat yang berbahagia...

Alhamdulillah. Karena nikmat dan rahmat dari Allah SwT, hari ini kita bisa menjumpai lagi hari yang sangat mulia dalam setia pekan, yaitu hari raya Jum’at. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat dan orang-orang yang istiqamah di jalan beliau hingga akhir zaman nanti. Tak lupa khatib berpesan untuk selalu meningkatkan ketakwaan kepada Allah SwT,

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 197)

 

Jamaah shalat Jumat yang berbahagia...

Selain tubuh, hati kita juga bisa terjangkit penyakit. Penyakit hati jauh lebih berbahaya. Sebab, efek yang ditimbulkannya tidak saja dirasakan di dunia, tetapi berlanjut hingga di akhirat. Salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya adalah hasad. Hasad adalah faktor utama tumbuh suburnya kebencian. Dari kebencian itulah akan muncul beragam tindak kezaliman.

 

Sejarah telah membuktikan. Pembunuhan pertama kali terjadi dipicu oleh hasad. Qobil membunuh saudara kandungnya karena hasad. Hal yang sama juga terjadi pada Nabi Yusuf as. Ia dijerumuskan saudaranya ke dalam sumur juga karena hasad. Itulah sebabnya Rasulullah saw memperingatkan umatnya dari bahaya penyakit ini dalam sabdanya,

لاَ تَقَاطَعُوْا وَلاَ تَدَابَرُوْا وَلاَ تَبَا غَضُوْا وَلاَ تَحَا سَدُوْا وَكُوْنُوْا إِخْوَانًا كَمَا أَمَرَ كُمُ اللَّهُ

“Janganlah kalian memutuskan tali persaudaraan, saling berpaling ketika bertemu dan saling membenci serta saling dengki. Jadilah kalian bersaudara sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah.” (HR.Muslim)

 

Jamaah shalat Jumat yang berbahagia...

Apakah sesungguhnya hasad itu? Hasad adalah kebencian pada orang lain disebabkan kebaikan yang ada pada dirinya. Alhasil pikiran orang yang terserang hasad dikuasai oleh keinginan menghilangkan kebaikan yang ada pada orang lain. Merasa tidak suka terhadap nikmat yang ada pada orang lain, sudah disebut hasad, walau tidak menginginkan nikmat tersebut hilang. Ibnu Taimiyah berkata, “Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.”

 

Ibnul Qayyim berkata,Hasad (membuat si penderita) benci kepada nikmat Allah Azza wa Jalla atas hamba-Nya, padahal Allah Azza wa Jalla menginginkan nikmat tersebut untuknya. Hasad juga membuatnya senang dengan hilangnya nikmat tersebut dari saudaranya, padahal Allah benci jika nikmat itu hilang dari saudaranya.

 

Allah SWT berfirman,

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Qs. an Nisa’ [4]: 32)

 

Jamaah shalat Jumat yang berbahagia...

Meski sangat berbahaya, Islam telah menyediakan obat untuk menerapi penyakit hasad tersebut. Salah satunya memandang setiap peristiwa, baik menyenangkan atau tidak sebagai ketetapan dan takdir dari Allah SwT, maka penyakit hasad itu dapat diredam. Sebab, takdir Allah SwT tidak tertolak dan selalu tersimpan di baliknya hikmah dan kebaikan. Allah SwT berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

 

Jamaah shalat Jumat yang berbahagia...

Kalau kita menyadari bahwa semua adalah takdir Allah SwT, maka saat orang lain mendapatkan kenikmatan, sifat hasad tak akan menyala. Sebab, keyakinan di atas sudah membentenginya. Membiarkan hasad muncul akan menjadi sumber kegelisahan. Karena substansi dari sifat hasad adalah menolak takdir dan ketentuan Allah SwT, padahal takdir Allah SwT tidak bisa ditolak.

 

Jamaah shalat Jumat yang berbahagia...

Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah SwT memberi taufik dan hidayah. Aamiin...

 

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

 

Jamaah shalat Jumat yang berbahagia...

Ubadah bin Shamit ra, salah seorang sahabat Rasulullah saw, pernah berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, sungguh engkau tidak akan mendapatkan kelezatan hakikat iman hingga engkau meyakini bahwasanya apa yang telah ditakdirkan oleh Allah akan menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa yang ditakdirkan tidak menimpamu tidak mungkin mengenai dirimu.” (HR. Abu Dawud)

 

Jamaah shalat Jumat yang berbahagia...

Semoga kita dapat terhindar dari penyakit hasad, sebuah penyakit hati yang dapat membuat amalan kebaikan kita menjadi sia-sia. Rasulullah saw bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

“Hati-hatilah kalian dari hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)

 

Berbahagilah orang-orang yang bisa mengatasi penyakit hasad, semoga kita termasuk di dalamnya. Aamiin...

 

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ، اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.

وَصَلى الله وسَلم عَلَى مُحَمد تسليمًا كَثيْرًا وآخر دَعْوَانَا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Bila Semangat Juang Memudar

 

BILA SEMANGAT JUANG MEMUDAR

Oleh: Andika Rahmawan

Guru SMP Muhammadiyah Imam Syuhodo Blimbing Sukoharjo


Berbagai godaan dan tekanan hebat yang melanda medan dakwah seringkali membawa virus futur yang mewabah dan menjangkiti para aktifisnya. Sebuah penyakit yang harus diwaspadai oleh para aktifis gerakan Islam. Karena jika dibiarkan begitu saja akan berakibat sangat fatal. Tak cuma semangat yang menjadi luntur, bahkan aqidah pun bisa melayang dibuatnya.

Futur berasal dari bahasa arab yang artinya terputus, berhenti, malas dan lambat, setelah sebelumnya rajin dan konsisten. Dalam konteks dakwah, futur bermakna kondisi menurunnya semangat beriman dan beramal shalih serta melemahnya ghirah seseorang dalam berjihad dan berdakwah. Futur terdiri dari banyak tingkatan. Yang paling ringan adalah apabila seseorang mengalami penurunan kualitas ruhiyah, ibadah serta amal shalih. Kemudian beranjak pada berkurangnya kuantitas ibadah dan amal shalih. Lebih jauh lagi adalah tingkatan yang mulai meninggalkan sama sekali ibadah dan amal shalih tersebut. Dan terakhir yang paling parah adalah meninggalkan keimanan sama sekali (Untung Wahono, 2006 : 21)

Dalam konteks dakwah kontemporer, fenomena futur sering muncul dalam beberapa kasus. Seorang ustadz pernah bercerita, “Kita adalah orang yang insya Allah telah teruji daya tahan kita dalam menghadapi masa-masa sulit. Namun belum teruji di saat memasuki masa-masa mudah. Dulu adalah hal biasa salah seorang di antara kita berjalan kaki dari Bogor ke Puncak untuk mengisi daurah di sebuah villa pinjaman, karena kita tak punya uang. Kita kuat.”

Beliau khawatir para kader dakwah justru akan mengalami futur disaat memasuki masa-masa mudah. “Saya justru khawatir ketangguhan itu hilang di saat kita telah mampu ke Puncak dengan mobil sendiri, disaat kenikmatan dunia mulai berada di sekitar kita.”

Dalam sebuah hadist Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah mengingatkan kepada kaum Muslimin di Madinah yang berlomba-lomba mendapatkan pembagian harta hasil jizyah, beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan terhadap kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah kekayaan dunia dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba dan akhirnya dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka.” (H.R. Muslim)

Menurut Ustadz Hamim Thohari (2006), ada tiga jenis kefuturan yang menimpa para aktivis dakwah. Pertama, aktivis yang ditinggalkan. Umumnya mereka adalah para pemalas yang tidak mau mengasah dirinya dengan menambah berbagai ilmu keislaman dan kreatifitas dakwah. Mereka tidak punya kesungguhan untuk memperbaharui (update) dan meningkatkan diri (upgrade) meraka secara terus menerus. Karenanya kualitas ke-Islamannya dangkal, kiprah dakwahnya juga hambar dan tidak berkembang, padahal lingkungan sekitarnya terus berubah dan mengalami kemajuan demi kemajuan. Meraka sebenarnya tidak pantas lagi menyandang predikat sebagai seorang aktifis dakwah, karena mereka pasif. Bukankah seorang Muslim setiap harinya harus lebih baik?! Hari ini harus lebih baik dari kemarin. Merugilah orang yang hari ini sama dengan kemarin, dan celakalah mereka yang hari ini lebih buruk dari kemarin.

Kedua, aktivis yang ditinggalkan. Mereka adalah mantan aktivis yang telah melakukan kesalahan fatal, baik dari segi aqidah, syari’ah, atau akhlaq. Setiap aktivis harus menyadari bahwa diri mereka adalah pemimpin dan penggerak perubahan. Meraka harus sadar bahwa ribuan pasang mata selalu memandang dan mengawasi gerak-geriknya. Masyarakat akan mengikuti jika mereka berlaku baik dan benar, tetapi mereka akan meninggalkannya ketika para aktivis itu mulai melakukan kesalahan, penyelewengan, apalagi sampai pada penyimpangan. Aktivis yang tidak bisa menjadi teladan, cepat atau lambat pasti akan ditinggalkan. Mereka akan futur, putus di tengah jalan.

Ketiga, aktivis yang meninggalkan. Mereka adalah mantan aktifis yang tidak sabar dan tidak istiqomah menapaki jalan perjuangan yang terjal dan panjang. Mereka tidak tahan menghadapi cobaan dan rayuan. Mereka juga tidak kuat menahan derita yang kadang sangat panjang dan menyakitkan. Belum lagi fitnah yang kadang datangnya tak terduga. Semua ini membuat mereka putus ditengah jalan. Mereka meninggalkan arena perjuangan dengan berbagai alasan. Ada yang ingin menata ekonomi keluarganya, membenahi sekolahnya, ingin menjadi masyarakat biasa, ingin uzlah supaya khusyu’ beribadah, dan banyak lagi alasan yang lain. Pada intinya mereka tidak tahan lagi hidup sebagai aktifis.

Sedangkan menurut Irfan S. Awwas (2007) para aktivis yang bergelut di medan dakwah mempunyai beberapa musuh, diantaranya yaitu: (1) Kekuatan tirani (penguasa thaghut); (2) Putus asa dari kemenangan; (3) Keruwetan hidup dan kesulitan ekonomi; (4) Sikap individualis dan egois; (5) Tunduk pada rutinitas dan menyerah pada kenyataan; (6) Melemparkan tanggung jawab; (7) Konspirasi kaum kafir dan munafik; (8) Nyaman pada kemapanan hidup; (9) Terlalu lama beristirahat; dan (10) Merasa aman dari rintangan.

Maka, ada dua kunci yang harus kita miliki untuk menakhlukkan semua rintangan dan kefuturan itu agar kemudian dapat meraih kemenangan dalam berdakwah. Yang pertama adalah Ikhlas. Ikhlas bukanlah ucapan yang hanya terlontar di lidah, huruf yang tertulis dalam catatan, banyaknya harta yang telah kita sumbangkan untuk kebaikan, lamanya waktu kita berdakwah, atau penampilan fisik yang tampak oleh mata. Ikhlas adalah ‘permata’ yang tersimpan di dalam hati seorang mukmin yang merendahkan hati dan jiwa-raganya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala penguasa alam semesta. Inilah kunci keselamatan dan keberhasilan yang akan menjadi sebab terbukanya gerbang ketentraman dan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara kita semua mengetahui, bahwa tanpa keikhlasan tak ada amal yang akan diterima.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, tidak juga harta kalian. Akan tetapi yang dipandang adalah hati dan amal kalian.” (H.R. Muslim)

Ikhlas adalah rahasia kesuksesan dakwah para nabi dan rasul serta para pendahulu kita yang shalih (salaf ash shalih). Berapapun jumlah orang yang tunduk mengikuti seruan mereka, mereka tetap dinilai berhasil dan telah menunaikan tugasnya dengan baik. Mereka tidak dikatakan gagal, meskipun ayahnya  sendiri produsen berhala, meskipun anaknya sendiri menolak perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, meskipun pamannya sendiri tidak mau masuk Islam yang diserukannya, meskipun tidak ada pengikutnya kecuali satu atau dua saja, bahkan ada nabi yang tidak punya pengikut sama sekali.

Mereka adalah suatu kaum yang mendapatkan pujian dan keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala karena keikhlasan dan ketaatan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena ilmu dan amalan yang mereka miliki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (Q.S. an-Nisa’ [4] : 69)

Kalau kita memang ikhlas niscaya kita akan merasa senang apabila saudara kita mendapatkan hidayah, entah itu melalui tangan kita atau tangan orang lain. Kalau kita memang ikhlas, maka amalan sekecil apapun tidak akan pernah kita sepelekan. Kalau kita memang ikhlas, maka kita akan selalu beramal meskipun tak ada seorangpun yang melihat dam memuji amalan kita.

Sedangkan kunci yang kedua adalah ittiba’, berpegang teguh kepada jalan dakwah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Takkan ada kekuatan apapun yang dapat mempertahankan benteng kebenaran kecuali dengan pertolongan-Nya. Dan pertolongann-Nya tidak akan diberikan kecuali hanya akan diberikan kepada para aktivis yang tetap berdiri tegak diatas jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan selalu istiqamah menjadikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai sebaik-baik teladan (uswah hasanah) dalam setiap sendi kehidupan yang dijalaninya.

Siapa saja yang berpaling dari tuntunan Alquran dan Sunnah sahihah dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam saat senang maupun susah, bahagia maupun menderita, dikala sempit maupun lapang, maka ia akan ditemani setan, baik setan dari jenis jin maupun manusia yang akan selalu menyesatkan dan menghalangi mereka dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lurus.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab.” (Q.S. Az Zukhruf [43] :43-44)

Wallahu A’lam

Meneladani Bapak Tauhid, Ibrahim ‘alaihis salam

 

Meneladani Bapak Tauhid, Ibrahim ‘alaihis salam

Oleh: KH. Sholahuddin Sirizar, Lc, M.A

Direktur Pondok Pesantren Modern Imam Syuhodo

 

MUQADIMAH

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah salah satu nabi dan rasul yang paling mulia. Nama beliau disebut Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an sebanyak 69 kali. Tersebar dalam 26 surat; 17 surat-surat Makkiyah dan 8 surat-surat Madaniyah. Terbanyak disebut dalam surat Al-Baqarah (15 kali), kedua dalam surat Ali Imran (7 kali), ketiga dalam surat An-Nisa’, Al-An’am, Hud dan Al-Anbiya’ masing-masing 4 kali, selebihnya antara tiga, dua dan satu. Bahkan ada satu surat dalam Al-Qur’an yang dinamai dengan nama Ibrahim ‘alaihis salam sendiri, yaitu surat ke-14.

Surat Ibrahim diturunkan di Makkah sebelum Hijrah, terdiri dari 52 ayat. Meskipun dinamai dengan Ibrahim, surat ini tidak sepenuhnya berisi tentang kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Bahkan nama Nabi Ibrahim ‘alaihis salam hanya disebut satu kali, yaitu pada ayat 35, mengawali serangkaian doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang berlanjut sampai ayat 41. Berikut ayat pertama dari tujuh ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (Q.S. Ibrahim [14]: 35)

 

NASAB NABI IBRAHIM ‘alaihis salam

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berasal dari Haraan (sekarang tempat itu terletak di Propinsi Nashiriyah, Iraq), kemudian pindah ke Babilonia. Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang nama bapak Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Menurut Ibnu Sa’ad rahimahullah, namanya Tarah bin Nahur bin Sarukh bin Arghuwa bin Faligh bin ‘Abir bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Sedang menurut Ibnu Jarir At Tabari rahimahullah, namanya Azar. Sebagaimana disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:

“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata." (Q.S. Al An’am [6]:74)

 

KETAATAN NABI IBRAHIM ‘alaihis salam

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam telah diberi hidayah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala semenjak beliau masih kecil. Sehingga meskipun orangtua dan lingkungannya musyrik tidak sedikitpun berpengaruh kepada keyakinannya dalam mentauhidkan Tuhan pencipta alam semesta. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya.” (Q.S. Al Anbiya’ [21] : 51)

Menyikapi kemusyrikan yang menyebar di masyarakatnya, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dengan tegas menolak kemusyrikan yang dilakukan oleh kaumnya tersebut. Keyakinan dan tindakan mereka mempertuhankan bintang-bintang, bulan dan matahari, bahkan membuat berhala-berhala untuk disembah adalah kemusyrikan yang wajib ditinggalkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan ketegasan sikap Nabi Ibrahim ‘alaihis salam terhadap kemusyrikan tersebut dalam ayat berikut:

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Q.S. Al-An’am [6] : 79)

Hari Raya ‘Idul Adha tidak bisa dilepaskan dari sejarah ketaatan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah figur pemimpin yang senantiasa taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala setiap saat. Karena ketaatannnya yang terus menerus itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dengan ummatun qanitan. Qanit artinya dawamuth tha’ah, yakni selalu istiqamah di dalam ketaatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).” (Q.S. An Nahl [16] : 120)

Bermodalkan dengan husnudhan billah (berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) apapun perintah-Nya selalu ditaati sekalipun dangkalnya akal manusia tidak dapat menjangkaunya.

Diantara sekian banyak perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dikerjakan dengan ketaatan, ada dua hal yang sangat menakjubkan, yaitu:

1. Meninggalkan istri dan anaknya diantara bukit Shafa dan Marwa yang tandus lagi kering kerontang. Peristiwa ini dikisahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai berikut:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Q.S. Ibrahim [14]: 37)

Istri Nabi Ibrahim ‘alaihis salam (Hajar) dan anaknya (Ismail ‘alaihis salam) yang ditinggalkan di tanah tandus kenyataanya juga tidak terlantar dan bahkan tertolong. Bahkan kini peristiwa Hajar yang naik turun bukit Shafa dan Marwa untuk mencari air minum anaknya tersebut justru diperagakan jutaan jamaah haji dalam proses sa’i.

Selain sa’i masih banyak lagi prosesi manasik haji yang merupakan peragaan simbolik meniti jejak Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Seperti meminum air zam-zam, shalat di belakang maqam Ibrahim ‘alaihis salam, berdoa atau shalat di hijr Ismail.

2. Membenarkan mimpi nubuwwah agar menyembelih putranya (Ismail ‘alaihis salam). Kisah tersebut dijelaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai berikut:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (Q.S. Ash Shaffat [37] : 102)

Kemuliaan dunia dan akhirat akhirnya diperoleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam karena ketaatannya pada agama tanpa membantah. Termasuk peristiwa penyembelihan Ismail ‘alaihis salam (yang ternyata diganti Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menyembelih hewan ternak) ini juga diabadikan Allah ‘Azza wa Jalla dalam syariat Qurban yang dilaksanakan kaum muslimin seluruh dunia setiap tahunnya. Melempar jumrah dalam prosesi haji juga keteladanan yang diambil dari peristiwa penyembelihan Ismail ‘alaihis salam yang saat itu digoda oleh syetan agar melawan perintah ayahnya untuk disembelih.


PELAJARAN DARI IBRAHIM ‘alaihis salam

Dari uraian yang telah lalu, kita para generasi penerus Islam ini seharusnya dapat mengambil pelajaran dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Diantaranya sebagai berikut: (1) Memiliki tauhid yang lurus dan jauh dari syirik. Karena Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah “Bapak Tauhid” kita; (2) Selalu taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sanggup menjalankan semua perintahnya apapun resikonya; (3) Selalu beramar makruf nahi munkar. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sangat intens dalam bernahi munkar sehingga menghadapi berbagai macam bahaya termasuk dibakar hidup-hidup oleh raja yang zalim; (4) Selalu memiliki kemauan yang keras, pantang menyerah dan tentu saja dengan disertai kesabaran yang tinggi untuk mencapai ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala; (5) Selalu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala meskipun meninggalkan istri dan putranya di padang tandus. Tapi karena semuanya diserahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka semuanya berakhir dengan khusnul khatimah; dan (6) Dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala baik di dunia maupun di akhirat karena ketaatannya yang mutlak tanpa mengenal batas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wallahu a’lam bish shawab

Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah


MATAN KEYAKINAN DAN CITA-CITA HIDUP MUHAMMADIYAH

 

1. Muhammadiyah adalah gerakan Islam dan dakwah amar ma’ ruf nahi munkar, berakidah Islam dan bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat utama, adil makmur yang diridai Allah -subhanahu wa ta’ala-, untuk melaksanakanfungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.

 

2. Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Rasul-Nya, sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada Nabi penutup Muhammad –shallallahu ‘alayhi wa sallam-, sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa, dan menjamin kesejahteraan hidup materiil dan spiritual, duniawi dan ukhrawi.

 

3. Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan:

a. Al-Qur’an : Kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad -shallallahu ‘alayhi wa sallam-;

b. Sunnah Rasul : Penjelasan dan pelaksanaan ajaran-ajaran Al-Qur’an yang diberikan oleh Nabi Muhammad -shallallahu ‘alayhi wa sallam- dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam.

 

4. Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang:

a. Akidah

b. Akhlak

c. Ibadah

d. Muamalah Duniawiyah


4.1 Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya akidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan, bid’ah dan khurafat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam.

4.2 Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlak mulia dengan berpedoman kepada ajaran-ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia.

4.3 Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah -shallallahu ‘alayhi wa sallam-, tanpa tambahan dan perubahan dari manusia.

4.4 Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya muamalat duniawiyah (pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat) dengan berdasarkan ajaran agama serta menjadi semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-.

 

5. Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan kemerdekaan bangsa dan Negara Republik Indonesia berdasar pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, untuk berusaha Bersama-sama menjadikan suatu negara yang adil dan Makmur dan diridhai Allah -subhanahu wa ta’ala-.: “BALDATUN THAYYIBATUN WA ROBBUN GHOFUR”

 

(Keputusan Tanwir Tahun 1969 di Ponorogo)

 

Catatan:

Rumusan Matan tersebut telah mendapat perubahan dan perbaikan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah:

a. Atas kuasa Tanwir tahun 1970 di Yogyakarta;

b. Disesuaikan dengan Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta.


Sumber: Website Resmi Muhammadiyah