Diberdayakan oleh Blogger.

New

Artikel

Kolom Guru

Prestasi

Agenda Sekolah

Info Pendaftaran

Jejak Nyata Nyai Walidah Ahmad Dahlan


Ketika bicara tentang emansipasi perempuan di Indonesia, nama R.A. Kartini sering kali seakan menjadi ikon tunggal. Ia dikenal melalui surat-suratnya kepada teman-temannya di Belanda yang menyuarakan keresahan dan harapan tentang perempuan, persamaan hak dengan laki-laki, termasuk di dalamnya tentang pendidikan. Surat-surat yang kemudian dikumpulkan oleh Mr. J.H. Abendanon dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).

Namun, dalam lembar sejarah yang jarang disorot, berdiri tegak sosok perempuan lain yang tak hanya memiliki wacana untuk perubahan, tetapi benar-benar nyata dalam mewujudkannya. Dialah Siti Walidah, yang lebih dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan.

 

Sang Penggerak Perempuan

Lahir pada 3 Januari 1872 M di Kauman, Yogyakarta, Siti Walidah tumbuh dalam keluarga dan lingkungan yang religius. Ia adalah istri dari KH. Ahmad Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah. Namun, sebutan “istri pendiri” terlalu kecil untuk menggambarkan kontribusinya dalam dunia perjuangan. Nyai Walidah bukan sekadar pendamping semata, ia adalah penggerak, pelopor, dan pemimpin para perempuan.

Pada 19 Mei 1917 M, ia menjadi salah satu tokoh sentral yang turut mendirikan ‘Aisyiyah, organisasi perempuan di bawah Muhammadiyah yang menjadi pelopor gerakan perempuan Muslim berkemajuan di Nusantara. Di masa ketika perempuan bahkan belum bebas keluar rumah, Nyai Walidah Dahlan sudah berbicara tentang pendidikan anak perempuan serta peran strategis dan kontribusi perempuan dalam membangun bangsa.

Dan gerakan besar ini dikelola oleh para perempuan. Bahkan sebelum Indonesia merdeka, ketika bangsa ini masih berada di bawah penjajahan Belanda, sekelompok perempuan visioner, hasil didikan dari pemahaman Islam berkemajuan KH. Ahmad Dahlan yang jauh melampaui zamannya, telah membentuk sebuah organisasi khusus perempuan bernama ‘Aisyiyah.

 

Amal Usaha ‘Aisyiyah

R.A. Kartini menulis dan menyuarakan harapan. Sementara itu, Nyai Walidah membangun, menggerakkan, dan menumbuhkan perubahan pada tataran nyata. Salah satu tonggak pentingnya dimulai dengan merintis lembaga pendidikan anak usia dini melalui pendirian Frobel School pada tahun 1919 (dua tahun setelah ‘Aisyiyah berdiri), yang kini dikenal sebagai TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA). Ia juga menggagas program pendidikan keaksaraan bagi perempuan serta mendirikan musala khusus perempuan pada tahun 1922, sebuah langkah berani di masa itu.

Hari ini, dalam usianya yang telah mencapai 105 tahun menurut kalender Miladiyah, warisan gerakan ‘Aisyiyah terus tumbuh dan berkembang, menyebar luas ke seluruh pelosok tanah air.

Dalam bidang pendidikan, amal usahanya terdiri dari ribuan PAUD/TK, SD, SMP, dan SMA, lembaga pendidikan nonformal, termasuk perguruan tinggi. Di bidang kesehatan, ‘Aisyiyah mengelola dan mengembangkan amal usaha kesehatan, yaitu puluhan rumah sakit dan klinik yang tersebar di seluruh Indonesia. Di bidang sosial, ‘Aisyiyah mengembangkan berbagai amal usaha seperti panti asuhan, panti difabel, daycare dan panti lansia, termasuk Rumah Sakinah. Di bidang ekonomi, saat ini ‘Aisyiyah telah mengelola ratusan koperasi serta mengembangkan ribuan Badan Usaha Ekonomi ‘Aisyiyah (BUEKA).

Inilah yang sesungguhnya dapat disebut sebagai sebuah gerakan, aktivitas sosial, dan pemberdayaan masyarakat yang tidak berhenti pada wacana atau diskusi semata, melainkan menjelma menjadi aksi nyata yang besar dan berdampak luas. Dan luar biasanya, gerakan ini dikelola oleh para perempuan.

Bayangkan, lebih dari seratus tahun yang lalu, di masa ketika belum ada teknologi maju seperti sekarang ini, gagasan besar ini telah tumbuh subur di benak para perempuan pelopor ‘Aisyiyah. Mereka telah menyadari pentingnya mendirikan lembaga pendidikan, mendidik anak-anak, mempersiapkan generasi penerus, serta memberdayakan kaum perempuan, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diraih.

Mungkin tak banyak yang tahu jejak para perempuan hebat yang dulu dipelopori oleh Nyai Walidah Dahlan ini. Tak banyak yang sadar bahwa kerja besar ini berasal dari tangan-tangan perempuan yang telah bergerak sejak zaman penjajahan, sebelum lahirnya republik ini. Semua pergerakan ini dipimpin dan dipelopori oleh seorang perempuan yang tak pernah meminta diperingati hari lahirnya.

 

Mengabadikan Nama Nyai Walidah Dahlan

Nyai Walidah Dahlan tidak menuntut kesetaraan lewat slogan. Ia menunjukkannya melalui tindakan nyata. Baginya, emansipasi bukanlah kompetisi antara laki-laki dan perempuan, melainkan kerja bersama untuk memajukan umat dan bangsa. Ia mengajak perempuan untuk berilmu, mandiri, dan berdaya, tanpa meninggalkan nilai-nilai ajaran Islam.

Di masa kini, ketika isu perempuan sering kali dijadikan komoditas dan diperjualbelikan dalam ruang politik atau media, sosok Nyai Walidah memberi teladan bahwa kerja nyata dan konsistensi lebih lantang daripada perayaan tahunan yang minim makna.

Berkat jasanya dalam mengupayakan pendidikan dan memperjuangkan hak-hak kaum perempuan, pada 10 November 1971, Nyai Ahmad Dahlan dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Soeharto. Namun, pengakuan ini belum cukup untuk menjadikannya dikenal setara dengan tokoh-tokoh lain dalam buku sejarah sekolah.

Nyai Walidah Dahlan bukan sekadar menginspirasi dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”, melainkan secara nyata menghadirkan “pelita” melalui karya-karya nyata. Karya beliau tidak berupa kumpulan surat yang kemudian dibukukan, melainkan terwujud dalam puluhan ribu warisan yang tersebar di seluruh penjuru negeri.

Sudah saatnya kita mengangkat nama Nyai Walidah Dahlan, bukan hanya sebagai pelengkap dari KH. Ahmad Dahlan, tetapi sebagai sosok emansipasi sejati. Perempuan yang tidak hanya berpikir tentang masa depan bangsanya, tetapi menanam benih dan menyiramnya dengan kerja keras agar generasi setelahnya bisa tumbuh dalam pendidikan dan kemuliaan.

Emansipasi bukan hanya hak bicara, tetapi hak untuk berkarya nyata. Dan Nyai Walidah telah membuktikan bahwa seorang perempuan bisa mengubah sejarah, bukan hanya dengan slogan, tetapi dengan meninggalkan warisan nyata.

Refleksi 98 Tahun Runtuhnya Khilafah Terakhir


Tepat pada 3 Maret 1924, dunia Islam mengalami peristiwa besar yang mengubah arah sejarah: runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, institusi pemerintahan Islam terakhir yang selama berabad-abad menjadi simbol persatuan dan kepemimpinan umat Islam. Pada tahun 2022 ini, saat kita memperingati 98 tahun peristiwa tersebut, penting bagi kita untuk tidak hanya mengenang, tetapi juga merefleksikan makna dan dampaknya dalam kehidupan umat Islam hari ini, khususnya di Indonesia.


Khilafah Utsmaniyah: Simbol Persatuan Dunia Islam

Khilafah Utsmaniyah bukan sekadar pemerintahan, melainkan lambang izzah (kemuliaan) kaum muslimin, penjaga agama, dan pelindung umat. Ia menaungi berbagai bangsa dan suku, dari Balkan hingga Hijaz, dari Afrika hingga Asia. Di tengah keberagaman itu, panji Islam menyatukan mereka dalam satu visi: umat yang kuat di bawah bimbingan wahyu.

Walaupun wilayah Nusantara jauh dari pusat Khilafah, umat Islam di Indonesia memiliki hubungan historis dan emosional yang erat dengan kekhalifahan ini. Kesultanan Aceh, Demak, Mataram Islam, Ternate, dan lainnya pernah menjalin komunikasi, bahkan aliansi spiritual dan strategis dengan Istanbul.

Sebagai contoh, Kesultanan Aceh Darussalam pernah mengirim utusan kepada Khalifah di Istanbul untuk meminta dukungan melawan Portugis. Utsmaniyah merespons dengan mengirim bantuan militer dan teknisi. Ini membuktikan bahwa walau berjauhan secara geografis, umat Islam memiliki semangat persaudaraan lintas batas negara.


Runtuhnya Khilafah dan Perpecahan Umat

Setelah Khilafah dibubarkan paksa oleh Mustafa Kemal Atatürk pada 1924, umat Islam terpecah menjadi banyak negara-bangsa yang berdiri di atas asas nasionalisme. Identitas keislaman mulai tergeser oleh sekat-sekat kebangsaan, dan umat kehilangan pusat kepemimpinan global yang menyatukan suara dan arah perjuangan.

Kini, di tahun 2022, ada puluhan negara mayoritas Muslim eksis sebagai negara bangsa, namun banyak di antaranya masih dilanda konflik internal, ketidakstabilan politik, dan ketimpangan sosial. Meskipun secara kuantitas umat Islam selalu berkembang, namun kualitas persatuan dan kekuatannya justru melemah.


Refleksi dan Harapan

Dalam menghadapi kondisi ini, penting bagi kita sebagai generasi Muslim untuk tidak hanya menangisi masa lalu, tapi mengambil pelajaran darinya. Persatuan yang hakiki tidak akan pernah lahir dari nasionalisme sempit yang hanya mementingkan kelompok atau bangsa sendiri. Persatuan sejati hanya bisa tumbuh di atas dasar yang kokoh: Islam.

Sebagaimana dahulu Khilafah mampu menyatukan beragam bangsa, bahasa, dan budaya karena mereka tunduk pada ajaran yang sama, syariat yang satu, dan tujuan yang mulia, maka begitu pula umat Islam hari ini: hanya panji Islam yang dapat menyatukan kembali kekuatan umat yang tercerai-berai.

Indonesia, sebagai negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, memegang peran strategis dalam kebangkitan itu. Sekolah-sekolah Islam, termasuk amal usaha Muhammadiyah, memiliki tanggung jawab besar untuk mendidik generasi yang berpikir global, berspirit ukhuwah Islamiyah, dan memahami sejarah perjuangan umat.


Penutup

Kini, 98 tahun pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, khilafah Islam terakhir di muka bumi, kita menyadari bahwa kehormatan umat Islam tidak akan kembali jika umat ini terus terpecah, saling bersaing dan kehilangan arah. Hanya ketika kita kembali kepada Islam sebagai akidah, syariat, dan sistem kehidupan secara kaffah, barulah persatuan yang hakiki dapat diwujudkan untuk mengembalikan kejayaan umat.

Mari kita jadikan momentum 3 Maret ini sebagai ajang renungan, bahwa kekuatan umat Islam ada pada kesatuan mereka di bawah panji Islam, bukan semata-mata pada batas wilayah dan nama negara. Semoga dari Indonesia, lahir kembali generasi yang siap mengangkat izzah umat dan memperjuangkan peradaban Islam yang mencerahkan dunia. Wallahu a'lam

Tiga Makna Refleksi Isra' Mikraj


Oleh: Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, M.Si

Ketua Umum PP Muhammadiyah


Tahun ini, kaum Muslimin memperingati peristiwa agung Isra' Mikraj pada 27 Rajab 1443 Hijriyah, atau bertepatan dengan Senin, 28 Februari 2022. Al-Qur’an sendiri menyampaikan keagungan Isra' Mikraj dalam ayat pertama Surat Al-Isra’.

Isra' Mikraj memiliki nilai inklusif bagi kehidupan kemanusiaan dan semesta yang terjabarkan dalam tiga makna.

Pertama, adalah makna kekuasaan. Isra' Mikraj Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga Sidratul Muntaha mengandung pesan bahwa di atas pencapaian ketinggian ilmu manusia, masih ada kekuatan ilahiyah yang tidak selalu bisa dirasionalisasi oleh pencerapan dan ilmu pengetahuan manusia.

Isra' Mikraj menunjukkan bahwa di balik kekuasaan manusia yang bersifat profan atau duniawi, ada kekuasaan Allah SWT—kekuasaan Tuhan yang bersifat ruhaniyah-ilahiyah, divine power, atau kekuasaan yang sakral.

Maknanya adalah, siapa pun—baik itu manusia, sekelompok manusia, organisasi, bahkan negara, lebih jauh lagi antarnegara—yang memiliki kekuasaan duniawi, jangan menyalahgunakan kekuasaan. Karena di balik kekuasaan duniawi, ada divine power, kekuasaan ilahi, kekuasaan sakral Allah SWT.

"Di atas langit masih ada langit." Maka manusia seyogianya, dengan kekuatan yang dimilikinya, tetap rendah hati dan tidak menyalahgunakan. Perang, penistaan, kezaliman, dan segala bentuk kesewenang-wenangan itu terjadi karena kekuasaan manusia lepas dari kekuasaan ketuhanan.

Kedua, makna diwajibkannya ibadah shalat bagi umat Muslim dalam peristiwa Isra' Mikraj. Ibadah shalat memiliki dua dimensi pesan: yakni hubungan manusia dengan Tuhan (habluminallah) dan hubungan manusia dengan manusia lainnya (habluminannas).

Shalat dan ibadah dalam Islam punya dimensi habluminannas, yakni memberikan hubungan yang baik, damai, dan memberikan manfaat bagi kehidupan. Sehingga, semakin banyak orang yang beribadah dengan baik, maka semakin baik pula kehidupan antarmanusia, baik dalam hubungannya dengan lingkungan maupun alam semesta.

Dalam posisi ini, jadikan Isra' Mikraj, dengan buah dari shalat, sebagai dasar untuk membangun relasi kemanusiaan yang semakin baik, tetapi juga relasi ketuhanan yang semakin dekat. Sehingga manusia semakin damai dengan langit, tetapi juga semakin damai dengan bumi. Artinya, bangun kehidupan yang lebih baik, adil, damai, tenteram, aman, makmur, serta hidup maju bersama, sehingga kehidupan menjadi penuh makna.

Ketiga, dijalankannya dua risalah Nabi setelah Isra' Mikraj. Dua risalah itu adalah risalah menyempurnakan akhlak, beserta risalah Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Dua risalah ini mengandung makna bahwa Islam membangun peradaban sekaligus membangun keadaban.

Karena itu, umat Muslim, tokoh agama, dan tokoh organisasi Islam senantiasa harus mencontoh akhlak mulia Nabi dengan tutur tindakan yang berkeadaban, baik di dunia nyata maupun di media sosial, sembari menebar rahmat bagi lingkungan di mana mereka berada.

Jangan melakukan kebijakan yang membawa mudarat, terlebih atas nama agama. Agama harus difungsikan sebagai pencipta kebaikan dalam kehidupan.

Maka bagi tokoh dan organisasi keagamaan, bawalah Islam betul-betul menjadi rahmat bagi semesta alam—bukan hanya dalam retorika dan ujaran, tetapi dalam tindakan dan keteladanan. Kita, umat beragama, para tokoh agama, dan organisasi-organisasi keagamaan harus bisa menunjukkan, sebagaimana Nabi Muhammad dengan uswah hasanah, bahwa pilihan tentang kebenaran, tentang kebaikan, dan tentang kepatutan hidup itu harus menjadi pancaran dari keberagamaan kita.


Sumber: Website Resmi Muhammadiyah

Analysis Of Human Resources In Elementary School Using The Stages Of Patton Analysis


Analysis Of Human Resources In Elementary School Using The Stages Of Patton Analysis

 

Djamal Said Askar, UIN Raden Mas Said Surakarta

Muhammad Nasri Dini, UIN Raden Mas Said Surakarta

Isnaeni Sofiana, Universitas Muhammadiyah Surakarta


Abstract

Policy analysis is a scientific discipline that uses rational argumentation by using existing data to assess, explain and generate ideas in order to solve a problem. This research will analyze education policy  related to human resource management in elementary schools. This research was conducted at SD Muhammadiyah Imam Syuhodo Sukoharjo. The research method used is qualitative. The subject of this research is the principal of SD Muhammadiyah Imam Syuhodo. Data collection in this study used interview, observation, and documentation techniques. The data obtained were then analyzed by data reduction techniques, data presentation, and data verification. The results of this study indicate that there are HR problems at SD Muhammadiyah Imam Syuhodo, where there are still many teachers who have not graduated from S1. Among the policy solutions offered are: tightening the teacher recruitment process and requiring teachers to attend undergraduate courses.

Keywords: Analysis, Human Resources, Elementary School


Full Text:


Sejarah dan Kebangkitan Kepanduan Muhammadiyah Hizbul Wathan


Pendahuluan

Gerakan kepanduan di Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai alat pendidikan karakter, tetapi juga merupakan bagian dari perjuangan kemerdekaan bangsa. Dalam sejarah panjang gerakan ini, Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) memiliki peran penting sebagai kepanduan yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam, dan tumbuh subur dalam naungan Persyarikatan Muhammadiyah. HW tidak hanya bertujuan untuk membentuk generasi muda yang disiplin dan berakhlak mulia, tetapi juga untuk menumbuhkan semangat kebangsaan yang tinggi, berjuang untuk kemerdekaan, serta menjadi pelopor pendidikan karakter di Indonesia.


Latar Belakang Lahirnya Gerakan Kepanduan

Pada awal abad ke-20, bangsa Indonesia mulai memperkenalkan gerakan kepanduan sebagai sarana membentuk karakter generasi muda yang tangguh, disiplin, dan cinta tanah air. Gerakan kepanduan pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh Belanda melalui Nederlandsch Indische Padvinders Vereeneging (NIPV) pada tahun 1917. Namun, gerakan kepanduan pribumi Indonesia yang lebih bersemangat nasionalis segera muncul, sebagai jawaban atas dominasi penjajahan Belanda.


Hizbul Wathan: Kepanduan Islam Pertama di Indonesia

Tahun 1916 KH. Ahmad Dahlan mengikuti pengajian SAFT (Sidiq, Amanah, Fathanah, Tabligh) di Surakarta yang diadakan secara rutin di rumah Kyai Haji Imam Mukhtar Bukhari. Di kota tersebut, KH. Ahmad Dahlan melihat anak-anak JPO (Javansche Padvinders Organisatie), dengan pakaian seragam, latihan baris berbaris di halaman Mangkunegaran.

Sesampaianya di Jogja, KH. Ahmad Dahlan menceritakan apa yang dilihat di Surakarta dan membicarakannya dengan beberapa muridnya, antara lain Sumodirjo dan Sarbini, dengan harapan para pemuda dari Muhammadiyah, dapat latihan kepanduan guna berbakti kepada Allah SWT. Mulailah Sumodirjo dan Sarbini merintis berdirinya Kepanduan di Muhammadiyah dengan latihan pertama kali baris berbaris, olah raga, dan pertolongan pertama pada kecelakaan.

Setiap ahad sore, anak-anak di sekitar kauman dilatih kegiatan kepanduan, dan pada malam rabu diberikan bekal keagamaan. Dari cikal bakal inilah lahir Kepanduan di Muhammadiyah yang awalnya bernama "Padvinder Muhammadiyah" pada tahun 1918.

Pada 20 Desember 1918, KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, mendirikan kepanduan yang kemudian atas usul Haji Hadjid diganti namanya menjadi Hizbul Wathan di Yogyakarta. HW lahir sebagai gerakan kepanduan Islam pertama yang dibentuk oleh gerakan Islam di Indonesia. Tujuan utama dari HW adalah untuk membentuk pemuda yang kuat secara fisik, berakhlak mulia, serta cinta tanah air, melalui sistem pendidikan kepanduan yang menggabungkan unsur keislaman dan kebangsaan.

Hizbul Wathan berarti "Pembela Tanah Air", yang mencerminkan semangat patriotisme yang menjadi pondasi gerakan ini. Sejak awal, HW memiliki visi untuk mencetak pemuda yang tidak hanya trampil dalam hal kepanduan, tetapi juga memiliki keteguhan dalam iman dan prinsip kebangsaan.


Peran HW dalam Pergerakan Nasional

Sejak berdirinya, HW bukan hanya berfokus pada pendidikan karakter, tetapi juga menjadi bagian integral dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Para pandu HW dilatih untuk menjadi pemimpin, anggota masyarakat yang aktif, serta kader pergerakan yang memiliki semangat juang dan pengabdian tinggi.

Ketika masa perjuangan kemerdekaan mencapai puncaknya, banyak tokoh pergerakan yang memiliki latar belakang kepanduan, termasuk dari HW, di antaranya Panglima Besar Jenderal Sudirman. Keterlibatan HW dalam pergerakan nasional ini memperlihatkan betapa pentingnya kepanduan sebagai sarana pembinaan karakter yang mendalam bagi generasi muda Indonesia.


Tantangan dan Kemunduran

Seiring berjalannya waktu, HW mengalami pasang surut. Pasca kemerdekaan Indonesia dan proses integrasi berbagai organisasi kepanduan, HW sempat kehilangan ruang gerak secara struktural. Keputusan pemerintah pada pada tanggal 20 Mei 1961 dikeluarkan KEPRES No. 238 tahun 1961 yang menyatukan berbagai organisasi kepanduan dalam wadah Gerakan Pramuka menyebabkan banyak organisasi kepanduan berbasis keagamaan, termasuk HW, mengalami kemunduran.

Meski demikian, nilai-nilai yang diajarkan oleh HW tetap hidup dan menjadi bagian dari pendidikan di kalangan warga Muhammadiyah. Namun, untuk beberapa dekade, HW praktis tidak aktif secara formal.


Kebangkitan Kembali Hizbul Wathan

Pada 1999, di tengah era reformasi yang lebih terbuka, HW dibangkitkan kembali oleh Muhammadiyah. Hal ini menjadi langkah strategis untuk menghidupkan kembali semangat kepanduan yang berlandaskan pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Kebangkitan HW ini tidak hanya bertujuan untuk mengisi kekosongan ruang gerak yang ditinggalkan sebelumnya, tetapi juga sebagai respon terhadap kebutuhan zaman. Generasi muda Indonesia kini menghadapi tantangan globalisasi yang membutuhkan pembinaan karakter dan keterampilan hidup yang lebih kuat. HW hadir sebagai gerakan yang mengedepankan nilai-nilai luhur Islam dan nasionalisme.


Struktur Organisasi dan Sistem Pendidikan

HW memiliki struktur organisasi yang terorganisasi dengan baik, dari tingkat dasar hingga dewasa. Setiap jenjang pendidikan dalam HW bertujuan untuk menumbuhkan karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, serta keterampilan hidup yang aplikatif di kehidupan sehari-hari. Jenjang-jenjang pendidikan tersebut meliputi:

  • Athfal (6-12 tahun)
  • Pengenal (12-17 tahun)
  • Penghela (17-20 tahun)
  • Penuntun (21-25 tahun)

Sedangkan dalam struktur organisasi Kepanduan Hizbul Wathan (HW), terdapat beberapa tingkatan yang mengatur jalannya gerakan ini dari tingkat nasional hingga ke satuan terkecil. Kwartir Pusat merupakan organisasi kepanduan HW di tingkat nasional yang menjadi pusat koordinasi seluruh kegiatan dan kebijakan HW di Indonesia. Di bawahnya, terdapat Kwartir Wilayah yang berfungsi sebagai organisasi tingkat provinsi, dan Kwartir Daerah yang berada di tingkat kota atau kabupaten. Kemudian, pada tingkat kecamatan atau desa, HW memiliki Kwartir Cabang yang menjalankan pembinaan lebih dekat ke lapangan. Adapun unit paling dasar dalam struktur ini adalah Qabilah, yaitu organisasi kepanduan HW yang berada di amal usaha Muhammadiyah seperti sekolah, masjid, dan lembaga lainnya. Struktur berjenjang ini menunjukkan sistematisnya pengelolaan gerakan kepanduan Hizbul Wathan dalam mendukung kaderisasi dan dakwah Muhammadiyah.


HW Sebagai Organisasi Otonom Muhammadiyah

Yang perlu ditegaskan adalah bahwa Hizbul Wathan adalah organisasi otonom Muhammadiyah. Sebagai bagian dari Muhammadiyah, setiap amal usaha yang ada dalam Muhammadiyah, baik itu di bidang pendidikan, sosial, maupun dakwah, harus mendukung tumbuh suburnya HW di lembaga-lembaga masing-masing. HW memiliki peran vital dalam melahirkan generasi muda yang berakhlak mulia, berwawasan luas, dan cinta tanah air.

Namun, meskipun HW adalah bagian dari Muhammadiyah, dalam beberapa tahun terakhir, organisasi kepanduan lain seperti Pramuka telah mendapatkan perhatian lebih, bahkan cenderung menggeser posisi HW dalam berbagai kegiatan pendidikan kepanduan di Indonesia. Hal ini menjadi tantangan besar, karena sesungguhnya setiap amal usaha Muhammadiyah harusnya memberikan ruang yang cukup bagi HW untuk tumbuh dan berkembang, sebagai gerakan kepanduan yang berlandaskan pada prinsip-prinsip Islam dan kebangsaan.


HW Sebagai Pilar Ketahanan Nasional

Di era modern ini, HW tidak hanya fokus pada kegiatan internal, tetapi juga berperan dalam berbagai kegiatan nasional dan internasional. HW turut berpartisipasi dalam Jambore Nasional, Jambore Dunia, serta menjalin kerja sama dengan organisasi kepanduan lainnya.

Gerakan ini juga memberikan kontribusi besar terhadap pendidikan karakter bangsa, dengan mencetak generasi muda yang tidak hanya berkompeten di bidang akademik, tetapi juga berintegritas, berakhlak mulia, serta siap menghadapi tantangan global.

Dalam menghadapi berbagai ancaman ideologi transnasional, HW berperan sebagai benteng moral yang kokoh, sekaligus sebagai pilar ketahanan nasional yang mendukung cita-cita kemerdekaan Indonesia.


Penutup

Hizbul Wathan (HW) bukan hanya sekadar gerakan kepanduan. Ia adalah gerakan yang lahir dari Muhammadiyah dengan tujuan mendidik generasi muda yang beriman, berkarakter kuat, dan cinta tanah air. Dengan semangat kebangsaan yang tak pernah pudar, HW terus berupaya untuk mencetak kader-kader bangsa yang siap menjadi pemimpin masa depan Indonesia.

Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, sudah sepatutnya seluruh amal usaha Muhammadiyah memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pengembangan HW, untuk memastikan bahwa semangat kepanduan yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan nasionalisme tetap tumbuh dan berkembang, serta mampu menjawab tantangan zaman.

Implementasi Sifat Nabi dalam Kepemimpinan Pendidikan di Sekolah Dasar

 

Implementasi Sifat Nabi dalam Kepemimpinan Pendidikan di Sekolah Dasar

 

Muhammad Nasri Dini, Syamsul Bakri

UIN Raden Mas Said Surakarta


Abstract

A leader must apply the knowledge of leadership in order to carry out his leadership well. One type of leadership in Islam is leadership based on the personality traits of the prophet. This study will describe how the implementation of prophetic traits in educational leadership in elementary schools. The research was conducted at SD Muhammadiyah Imam Syuhodo Sukoharjo. The method used in this research is a qualitative descriptive method with a case study research design. The resource person for this research is the principal of the school. The technique used in collecting data in this research is the technique of interview, observation, and documentation. Then the data obtained was then analyzed by data reduction techniques, data presentation, and data verification. The results of this study indicate that the mandatory traits of the Prophet Muhammad have been tried to be implemented by the school principal in educational leadership at SD Muhammadiyah Imam Syuhodo Sukoharjo. The characteristics of the Prophet are: sidiq (honest), amanah (trustworthy), tabligh (communicative) and fathanah (intelligent). The conclusion of this study is that the nature of the prophet has been implemented in SD Muhammadiyah Imam Syuhodo.

Keywords: Implementation, Prophetic Traits, Educational Leadership

 

Abstrak

Seorang pemimpin harus menerapkan ilmu kepemimpinan agar dapat menjalankan kepemimpinannya tersebut dengan baikSalah satu tipe kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan berbasis sifat-sifat kepribadian nabi. Penelitian ini akan mendeskripsikan bagaimana implementasi sifat-sifat nabi dalam kepemimpinan pendidikan di sekolah dasar. Penelitian dilakukan di SD Muhammadiyah Imam Syuhodo Sukoharjo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Narasumber penelitian ini adalah kepala sekolah. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kemudian data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sifat-sifat wajib Nabi Muhammad sudah berusaha diimplementasikan oleh kepala sekolah dalam kepemimpinan pendidikan di SD Muhammadiyah Imam Syuhodo Sukoharjo. Adapun sifat-sifat Nabi tersebut yaitu: sidiq (jujur), amanah (terpercaya), tabligh (komunikatif) dan fathanah (cerdas). Kesimpulan dari penelitian ini bahwa sifat nabi sudah diimplementasikan di SD Muhammadiyah Imam Syuhodo.

Kata kunci: Implementasi, Sifat Nabi, Kepemimpinan Pendidikan

 

Full Text:

 


Marjinalisasi Hizbul Wathan



Marjinalisasi Hizbul Wathan
Oleh: Harjanto, S.Pd.I
Aktifis Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Kabupaten Sukoharjo

Istilah "marjinal" tidak asing di masyarakat Indonesia, karena banyak rakyat Indonesia yang masuk dalam kelompok marjinal. Kelompok ini semakin tampak jelas di perkotaan dan bahkan banyak pula di pedesaan. Mereka terpinggirkan dalam ranah sosial, dianggap rendah, dan tidak penting dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Bahkan sering kali keberadaan mereka dianggap mengganggu serta menghalangi kepentingan orang lain.

Istilah "marjinal" berasal dari bahasa Inggris "marginal", yang berarti jumlah atau efek yang sangat kecil. Artinya, marjinal adalah suatu kelompok yang jumlahnya sangat kecil atau kelompok pra-sejahtera. Marjinal juga identik dengan masyarakat kecil atau kaum yang terpinggirkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003:761), marjinal berarti "berada di pinggir atau berhubungan dengan batas." Sedangkan "marginalisasi" adalah usaha membatasi atau pembatasan peran terhadap kelompok tertentu.


Marjinalisasi Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan

Marjinalisasi Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan berarti usaha membatasi atau menghambat peran Hizbul Wathan oleh kelompok tertentu atau bahkan oleh pemerintah, baik melalui ucapan, tindakan, maupun kebijakan yang dituangkan dalam peraturan-peraturan. Ini juga berarti usaha untuk mencegah keberlangsungan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, sehingga menjadi tidak aktif dan mati—dalam istilah agama disebut laa yamuutu walaa yahya, atau dalam bahasa yang lebih ekstrem "mati dan hilang dalam slogan pencerahan, bahkan di bumi Indonesia."


Cara-Cara Marjinalisasi

Sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka yang benci, dengki, dan tidak suka akan berusaha memojokkan, meminggirkan, serta menghilangkan eksistensi pihak lain dengan berbagai cara. Bahkan, mereka sering tidak menyadari bahwa tindakan mereka bertentangan dengan norma agama, hukum, sosial, dan adat. Namun, yang terpenting bagi mereka adalah mencapai tujuan: menyingkirkan, memarjinalkan, atau bahkan menghancurkan pihak yang mereka benci.

Secara garis besar, marjinalisasi terhadap Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan terbagi dalam dua bentuk:

1. Marjinalisasi Eksternal

Marjinalisasi eksternal berasal dari luar Persyarikatan Muhammadiyah, baik dari kelompok lain maupun pemerintah. Contohnya adalah:

  • Pidato PJM Presiden kepada para pemimpin pandu pada 9 Maret 1961 di Istana Merdeka.

  • Surat dari Perkindo No. 071/DK/III/61 terkait tindak lanjut amanat Presiden.

  • Keputusan Presiden RI No. 121 Tahun 1961 tentang Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka.

  • Surat Penguasa Perang Tertinggi No. 0605/Peperti/1961 tentang aktivitas kepanduan.

  • Keputusan Presiden RI No. 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka.

  • Surat Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka No. 8/PPGP tanggal 27 Mei 1961 mengenai pernyataan kesiapan meleburkan diri.

Bukti marjinalisasi semakin terlihat ketika Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan bangkit kembali pada 18 November 1999 dengan terbitnya SK PP Muhammadiyah No. 92/SK-PP/VI-B/1.b/1999. Namun, pemerintah kemudian mengeluarkan Undang-Undang No. 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka dan mempertegasnya dalam Kurikulum 2013, yang menetapkan Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib di sekolah. Kebijakan ini semakin meminggirkan Hizbul Wathan, termasuk di lingkungan pendidikan Muhammadiyah, sehingga menghambat kaderisasi di dalamnya.


2. Marjinalisasi Internal

Marjinalisasi internal berasal dari dalam Persyarikatan Muhammadiyah sendiri, baik secara struktural maupun personal. Banyak yang mempertanyakan apakah benar ada upaya marjinalisasi ortom Muhammadiyah dari dalam persyarikatan sendiri. Namun, realitas di masyarakat menunjukkan adanya tingkah laku, ucapan, dan kebijakan yang melemahkan Hizbul Wathan.

Secara struktural, Hizbul Wathan merupakan organisasi otonom Muhammadiyah sebagaimana tercantum dalam SK PP Muhammadiyah No. 92/SK-PP/VI.B/1.B/1999. Pembinaan di sekolah Muhammadiyah seharusnya berada di bawah Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), sebagaimana tertuang dalam SK Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah No. 128/KEP/I.4/F/2008. Namun, dalam praktiknya, implementasi kebijakan ini bergantung pada pemahaman dan loyalitas pimpinan di setiap tingkatan.

Beberapa bentuk pemarjinalan di sekolah Muhammadiyah antara lain:

  • Tidak adanya ketegasan dari Majelis Dikdasmen terhadap sekolah-sekolah Muhammadiyah yang tidak memakai seragam Hizbul Wathan.

  • Penolakan terhadap pemakaian seragam Hizbul Wathan bagi kepala sekolah dan guru di AUM Pendidikan.

  • Tidak adanya respon dari kepala sekolah Muhammadiyah terhadap pendanaan kegiatan Hizbul Wathan.

  • Tidak adanya pendidikan dan pelatihan Hizbul Wathan di sekolah Muhammadiyah dengan berbagai alasan.

  • Upaya kepala sekolah mengganti seragam Hizbul Wathan dengan seragam Pramuka.

Secara personal, marjinalisasi terhadap pengurus dan anggota Hizbul Wathan terlihat dalam bentuk penghinaan terhadap seragam Hizbul Wathan, seperti menyebutnya "seperti nahkoda," atau menyatakan bahwa Hizbul Wathan tidak diakui negara. Selain itu, anggota Hizbul Wathan sering dipersulit dalam meminta izin kegiatan, bahkan tidak diberi kesempatan menduduki posisi strategis di sekolah Muhammadiyah.

Marjinalisasi dari dalam ini lebih berbahaya dibandingkan tekanan dari luar. Seperti musuh dalam selimut, ancaman ini dapat menghancurkan Hizbul Wathan dari dalam, membuatnya mati sebelum berkembang, dan tinggal nama sebagai kenangan. Jika dibiarkan, kerugian akan dirasakan oleh Muhammadiyah dan umat Islam secara umum.


Refleksi dan Harapan

Jika Hizbul Wathan kembali terpuruk, Muhammadiyah akan mengalami kerugian besar. Oleh karena itu, warga Muhammadiyah yang secara sadar atau tidak melakukan marjinalisasi harus segera introspeksi dan memperbaiki diri. Ortom-ortom di bawah Muhammadiyah, termasuk Hizbul Wathan, harus didukung agar bisa maju dan mencapai cita-citanya. Memarjinalkan ortom berarti secara sistematis membunuh Muhammadiyah.

Semoga ke depan, para pimpinan Persyarikatan di berbagai tingkatan dapat bersahabat dengan Hizbul Wathan di seluruh Indonesia. Dengan begitu, mereka dapat menyiapkan dan membina anak, remaja, serta pemuda yang memiliki aqidah, mental, fisik, ilmu, teknologi, dan akhlak karimah, sehingga menjadi kader Persyarikatan, umat, dan bangsa yang sebenar-benarnya. Wallahul musta’an.